Kamis, 29 Agustus 2013

BATU LUMUT SUNGAI DAREH

BATU LUMUT SUNGAI DAREH


BATU LUMUT SUNGAI DAREH
ORIGIN : SUNGAI DAREH ,KAB DHARMASRAYA, SUMBAR
UKURAN 15mm x 10mm x 7mm
RING SILVER  20

Batu Lumut Sungai Dareh Dipopulerkan Obama PDF Cetak Surel
Rabu, 30 May 2012 04:24
Popularitas batu lumut Sungai Dareh, Kabupaten Dharmasraya yang disebut juga sebagai giok Sumatera terus meroket. Selain disebabkan keindahannya, kepopuleran batu lumut Sungai Dareh secara tidak langsung juga dipengaruhi
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Presiden pertama AS dari keturunan kulit hitam tersebut memasang batu akik lumut Sungai Dareh tersebut di jari manis kanannya.
Semenjak kabar Presiden Oba­ma memasang cincin bermata lumut dari Dharmasraya itu tersiar, nama batu cincin akik ini pun terus melejit. Dampaknya, semakin banyak orang yang gemar dengan batu berwarna hijau lumut tersebut, mulai kalangan ma­syarakat biasa, pengusaha, pejabat daerah, pejabat pusat, para politisi dan lainnya. Batu lumut asal Sungai Dareh ini pun laris manis di pasaran.
Giok Sumatera ini telah beredar di pasaran sejak 50 tahun lalu. Dalam lima tahun terakhir, nama­nya terus naik daun sehingga harga batu yang berasal dari Batanghari itu melambung. Kadangkala stok di pedagang juga kosong.
Terus melejitnya kepopuleran batu lumut Sungai Dareh ini juga tak terlepas dari gencarnya promosi yang dilaksanakan Pemkab Dhar­masraya. Promosi itu dila­kukan melalui pemberian cendera mata kepada tamu-tamu, mulai tamu dari lingkungan Sumbar, provinsi lain dan tamu-tamu dari pemerintah pusat dan mem­promo­sikannya melalui berbagai pameran.
Ditambah lagi karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Mendagri Gamawan Fauzi akhir-akhir ini turut memakai batu lumut Sungai Dareh ini di jari mereka sehingga penilaian masyarakat di pasaran naik drastis. ( HALUAN)

Rabu, 28 Agustus 2013

MARI MENGENAL KERIS

MARI MENGENAL KERIS

"Yuuuk..BELAJAR MENGENAL : KERIS"

Belum tentu semua pemegang ageman KERIS sudah mau mempelajari tentang KERIS. Adakalanya mereka hanya suka atau bangga : 'yang penting punya pegangan'. Hehehe...Jadi... please : JANGAN NANGGUNG !!!
(yang lebih parah lagi adalah KERIS hanya sekedar jadi hiasan/pajangan) Next Step > Jangan selalu menempatkan KERIS di benak kita adalah sebuah benda yang menakutkan. Bagaimana mungkin mau kenal kalau kita sudah takut duluan, ya nggak?!Walaupun sakral tapi tetap kita harus mengenalnya. Kita hanya tunduk & takut pada Gusti Alloh !!! DEAL ?! OK...LET'S START !
Istilah Keris Dalam budaya perkerisan ada sejumlah istilah yang terdengar asing bagi orang awam.. Pemahaman akan istilah-istilah ini akan sangat berguna dalam proses mendalami pengetahuan mengenai keris. Istilah dalam dunia keris, khususnya di Pulau Jawa, yang sering dipakai: angsar, dapur, pamor, perabot, tangguh, tanjeg, dan lain sebagainya. Di bawah ini adalah uraian singkat yang disusun secara alfabetik mengenai istilah perkerisan. Istilah ini lazim digunakan di Pulau Jawa dan Madura, tetapi dimengerti dan kadang kala juga digunakan di daerah lainnya, seperti Sulawesi, Sumatra, dan bahkan di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. //Angsar adalah daya kesaktian yang dipercaya oleh sebagian orang terdapat pada sebilah keris. Daya kesaktian atau daya gaib itu tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan oleh orang yang percaya. Angsar dapat berpengaruh baik atau posistif, bisa pula sebaliknya. Pada dasarnya, semua keris ber-angsar baik. Tetapi kadang-kadang, angsar yang baik itu belum tentu cocok bagi setiap orang. Misalnya, keris yang angsar-nya baik untuk seorang prajurit, hampir pasti tidak cocok bila dimiliki oleh seorang pedagang. Keris yang angsar-nya baik untuk seorang pemimpin yang punya banyak anak buah, tidak sesuai bagi pegawai berpangkat rendah. Guna mengetahui angsar keris, diperlukan ilmu tanjeg. Sedangkan untuk mengetahui cocok dan tidaknya seseorang dengan angsar sebuah keris, diperlukan ilmu tayuh. //Dapur Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut nama bentuk atau type bilah keris. Dengan menyebut nama dapur keris, orang yang telah paham akan langsung tahu, bentuk keris yang seperti apa yang dimaksud. Misalnya, seseorang mengatakan: "Keris itu ber-dapur Tilam Upih", maka yang mendengar langsung tahu, bahwa keris yang dimaksud adalah keris lurus, bukan keris yang memakai luk. Lain lagi kalau disebut dapur-nya Sabuk Inten, maka itu pasti keris yang ber-luk sebelas. Dunia perkerisan di masyarakat suku bangsa Jawa mengenal lebih dari 145 macam dapur keris. Namun dari jumlah itu, yang dianggap sebagai dapur keris yang baku atau mengikuti pakem hanya sekitar 120 macam saja. Serat Centini, salah satu sumber tertulis, yang dapat dianggap sebagai pedoman dapur keris yang pakem memuat rincian jumlah dapur keris sbb: Keris lurus ada 40 macam dapur. Keris luk tiga ada 11 macam. Keris luk lima ada 12 macam. Keris luk tujuh ada 8 macam. Keris luk sembilan ada 13 macam. Keris luk sebelas ada 10 macam. Keris luk tigabelas ada 11 macam. Keris luk limabelas ada 3 macam. Keris luk tujuhbelas ada 2 macam. Keris luk sembilan belas, sampai luk duapuluh sembilan masing-masing ada semacam. Namun, menurut manuskrip Sejarah Empu, karya Pangeran Wijil, jumlah dapur yang dianggap pakem lebih banyak lagi. Catatan itu menunjukkan dapur keris lurus ada 44 macam, yang luk tiga ada 13 macam, luk sebelas ada 10 macam, luk tigabelas ada11 macam, luk limabelas ada 6 macam, luk tujuhbelas ada 2 macam, luk sembilanbelas sampai luk duapuluh sembilan ada dua macam, dan luk tigapuluh lima ada semacam. Jumlah dapur yang dikenal sampai dengan dekade tahun 1990-an, lebih banyak lagi.//Luk Istilah ini digunakan untuk bilah keris yang tidak lurus, tetapi berkelok atau berlekuk. Luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Hitungannya mulai dari luk tiga, sampai luk tigabelas. Itu keris yang normal. Jika luknya lebih dari 13, dianggap sebagai keris yang tidak normal, dan disebut keris kalawijan atau palawijan. Jumlah luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Selain itu, irama luk keris dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, luk yang kemba atau samar. Kedua, luk yang sedeng atau sedang. Dan ketiga, luk yang rengkol -- yakni yang irama luknya tegas Mas kawin Dalam dunia perkerisan adalah pembayaran sejumlah uang atau barang lain, sebagai syarat transaksi atau pemindahan hak milik atas sebilah keris, pedang, atau tombak. Dengan kata yang sederhana, mas kawin atau mahar adalah harga. Istilah mas kawin atau mahar ini timbul karena dalam masyarakat perkerisan terdapat kepercayaan bahwa isi sebilah keris harus cocok atau jodoh dengan pemiliknya. Jika isi keris itu jodoh, si pemilik akan mendapat keberuntungan, sedangkan kalau tidak maka kesialan yang akan diperoleh. Dunia perkerisan juga mengenal istilah melamar, bilamana seseorang berminat hendak membeli sebuah keris. //Mendak adalah sebutan bagi cincin keris, yang berlaku di Pulau Jawa, Bali, dan Madura. Di daerah lain biasanya digunakan istilah cincin keris. Mendak hampir selalu dibuat dari bahan logam: emas, perak, kuningan, atau tembaga. Banyak di antaranya yang dipermewah dengan intan atau berlian. Pada zaman dulu ada juga mendak yang dibuat dari besi berpamor. Selain sebagai hiasan kemewahan, mendak juga berfungsi sebagai pembatas antara bagian hulu keris atau ukiran dengan bagian warangka. //PamorPamor dalam dunia perkerisan memiliki 3 (tiga) macam pengertian. Yang pertama menyangkut bahan pembuatannya; misalnya: pamor meteorit, pamor Luwu, pamor nikel, dan pamor sanak. Pengertian yang kedua menyangkut soal bentuk gambaran atau pola bentuknya. Misalnya: pamor Ngulit Semangka, Beras Wutah, Ri Wader, Adeg, dan sebagainya. Ketiga, menyangkut soal teknik pembuatannya, misalnya: pamor mlumah, pamor miring, dan pamor puntiran. Selain itu, ditinjau dari niat sang empu, pola pamor yang terjadi masih dibagi lagi menjadi dua golongan. Kalau sang empu membuat pamor keris tanpa merekayasa polanya, maka pola pamor yang terjadi disebut pamor tiban. Orang akan menganggap bentuk pola pamor itu terjadi karena anugerah Tuhan. Sebaliknya, jika sang empu lebih dulu membuat rekayasa pla pamornya, disebut pamor rekan [rékan berasal dari kata réka = rekayasa]. Contoh pamor tiban, misalnya: Beras wutah, Ngulit Semangka, Pulo Tirta. Contoh pamor rekan, misalnya: Udan Mas, Ron Genduru, Blarak Sinered, dan Untu Walang. Ada lagi yang disebut pamor titipan atau pamor ceblokan, yakni pamor yang disusulkan pembuatannya, setelah bilah keris selesai 90 persen. Pola pamor itu disusulkan pada akhir proses pembuatan keris. Contohnya, pamor Kul Buntet, Batu Lapak, dll. //Pendok berfungsi sebagai pelindung atau pelapis gandar, yaitu bagian warangka keris yang terbuat dari kayu lunak. Namun fungsi pelindung itu kemudian beralih menjadi sarana penampil kemewahan. Pendok yang sederhana biasanya terbuat dari kuningan atau tembaga, tetapi yang mewah terbuat dari perak atau emas bertatah intan berlian. Bentuk pendok ada beberapa macam, yakni pendok bunton, blewehan, slorok, dan topengan. //Perabot Dalam dunia perkerisan, asesoris bilah keris disebut perabot keris. Perlengkapan atau asesoris itu meliputi warangka atau sarung keris, ukiran atau hulu keris, mendak atau cincin keris, selut atau pedongkok, dan pendok atau logam pelapis warangka.//Ricikan Adalah bagian-bagian atau komponen bilah keris atau tombak. Masing-masing ricikan keris ada namanya. Dalam dunia perkerisan soal ricikan ini penting, karena sangat erat kaitannya dengan soal dapur dan tangguh keris. Sebilah keris ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng tanda-tandanya adalah berbilah lurus, memakai gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil. Gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil, adalah komponen keris yang disebut ricikan.. //Selut seperti mendak (cincin keris) terbuat dari emas atau perak, bertatahkan permata. Tetapi fungsi selut terbatas hanya sebagai hiasan yang menampilkan kemewahan. Dilihat dari bentuk dan ukurannya, selut terbagi menjadi dua jenis, yaitu selut njeruk pecel yang ukurannya kecil, dan selut njeruk keprok yang lebih besar. Sebagai catatan; pada tahun 2001, selut nyeruk keprok yang bermata berlian harganya dapat mencapai lebih dari Rp. 20 juta! Karena dianggap terlalu menampilkan kemewahan, tidak setiap orang mau mengenakan keris dengan hiasan selut.//Tangguh Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru di-tangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik. Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat. Mas Ngabehi Wirasoekadga, abdidalem Keraton Kasunanan Surakarta, dalam bukunya Panangguhing Duwung (Sadubudi, Solo, 1955) membagi tangguh keris menjadi 20 tangguh. Ia tidak menyebut tentang tangguh Yogyakarta, melainkan tangguh Ngenta-enta, yang terletak di dekat Yogya. Keduapuluh tangguh itu adalah: 1. Pajajaran 2. Tuban 3. Madura 4. Blambangan 5. Majapahit 6. Sedayu 7. Jenu 8. Tiris-dayu 9. Setra-banyu 10. Madiun 11. Demak 12. Kudus 13. Cirebon 14. Pajang 15. Pajang 16. Mataram 17. Ngenta-enta,Yogyakarta 18. Kartasura 19. Surakarta Keris Buda dan tangguh kabudan, walaupun di kenal masyarakat secara luas, tidak dimasukan dalam buku buku yang memuat soal tangguh. Mungkin, karena dapur keris yang di anggap masuk dalam tangguh Kabudan dan hanya sedikit, hanya dua macam bentuk, yakni jalak buda dan betok buda. Sementara itu Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (Gramedia, Jakarta 2004) membagi periodisasi keris menjadi 22 tangguh, yaitu: 1. Tangguh Segaluh 2. Tangguh Pajajaran 3. Tangguh Kahuripan 4. Tangguh Jenggala 5. Tangguh Singasari 6. Tangguh Majapahit 7. Tangguh Madura 8. Tangguh Blambangan 9. Tangguh Sedayu 10. Tangguh Tuban 11. Tangguh Sendang 12. Tangguh Pengging 13. Tangguh Demak 14. Tangguh Panjang 15. Tangguh Madiun 16. Tangguh Koripan 17. Tangguh Mataram Senopaten 18. Mataram Sultan Agung 19. Mataram Amangkuratan 20. Tangguh Cirebon 21. Tangguh Surakarta 22. Tangguh Yogyakarta Ada lagi sebuah periode keris yang amat mudah di-tangguh, yakni tangguh Buda. Keris Buda mudah dikenali karena bilahnya selalu pendek, lebar, tebal, dan berat. Yang sulit membedakannya adalah antara yang aseli dan yang palsu. //Tanjeg adalah perkiraan manfaat atau tuah keris, tombak, atau tosan aji lainnya. Sebagian pecinta keris percaya bahwa keris memiliki 'isi' yang disebut angsar. Kegunaan atau manfaat angsar keris ini banyak macamnya. Ada yang menambah rasa percaya diri, ada yang membuat lebih luwes dalam pergaulan, ada yang membuat nasihatnya di dengar orang. Untuk mengetahui segala manfaat angsar itu, diperlukan ilmu tanjeg. Dalam dunia perkerisan, ilmu tanjeg termasuk esoteri keris. //Tayuh Merupakan perkiraan tentang cocok atau tidaknya, angsar sebilah keris dengan (calon) pemiliknya. Sebelum memutuskan, apakah keris itu akan dibeli (dibayar mas kawinnya), si peminat biasanya terlebih dulu akan me- tayuh atas keris itu. Tujuannya untuk mengetahui, apakah keris itu cocok atau berjodoh dengan dirinya.//Ukiran Kata ukiran dalam dunia perkerisan adalah gagang atau hilt. Berbeda artinya dari kata 'ukiran' dalam bahasa Indonesia yang padanannya ialah carved atau engraved. Gagang keris di Bali disebut danganan, di Madura disebut landheyan, di Surakarta disebut jejeran, di Yogyakarta disebut deder. Sedangkan daerah lain di Indonesia dan Malaysia, Singapura, serta Brunei Darussalam disebut hulu keris. Warangka Atau sarung keris kebanyakan terbuat dari kayu yang berserat dan bertekstur indah. Namun di beberapa daerah ada juga warangka keris yang dibuat dari gading, tanduk kerbau, dan bahkan dari fosil binatang purba. Warangka keris selalu dibuat indah dan sering kali juga mewah. Itulah sebabnya, warangka juga dapat digunakan untuk memperlihatkan status sosial ekonomi pemiliknya. Bentuk warangka keris berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Bahkan pada satu daerah seringkali terdapat beberapa macam bentuk warangka. Perbedaan bentuk warangka ini membuat orang mudah membedakan, sekaligus mengenali keris-keris yang berasal dari Bali, Palembang, Riau, Madura, Jawa, Bugis, Bima, atau Malaysia. //Warangka SurakartaBiasanya terbuat dari kayu cendana wangi atau cendana Sumbawa (sandalwood - Santalum Album L.) Pilihan kedua adalah kayu trembalo, setelah itu kayu timaha pelet. Warangka ladrang terbagi menjadi empat wanda utama, yaitu Ladrang Kasatriyan, Ladrang Kadipaten, Ladrang Capu, dan Ladrang Kacir. Dua wanda yang terakhir sudah jarang dibuat, sehingga kini menjadi langka. Warangka ladrang adalah jenis warangka yang dikenakan untuk menghadiri suatu upacara, pesta, dan si pemakai tidak sedang melaksanakan suatu tugas. Bila dibandingkan pada pakaian militer, warangka ladrang tergolong Pakaian Dinas Upacara (PDU). Selain ladrang, di Surakarta juga ada warangka gayaman, yang dikenakan pada saat orang sedang melakukan suatu tugas. Misalnya, sedang menjadi panitia pernikahan, sedang menabuh gamelan, atau sedang mendalang. Prajurit keraton yang sedang bertugas selalu mengenakan keris dengan warangka gayaman. Warangka gayaman Surakarta juga ada beberapa jenis, di antaranya: Gayaman Gandon, Gayaman Pelokan, Gayaman Ladrang, Gayaman Bancigan, Gayaman Wayang. Jenis warangka yang ketiga adalah warangka Sandang Walikat. Bentuknya sederhana dan tidak gampang rusak. Warangka jenis inilah yang digunakan manakala seseorang membawa (bukan mengenakan) sebilah keris dalam perjalananWarangka Yogyakarta Bentuk warangka di Yogyakarta mirip dengan Surakarta, hanya ukurannya agak lebih kecil, gayanya lebih singset. Yang bentuknya serupa dengan warangka ladrang, di Yogyakarta disebut branggah. Kayu pembuat warangka branggah di Yogyakarta adalah kayu trembalo dan timaha. Sebenarnya penggunaan warangka branggah di Yogyakarta sama dengan warangka ladrang di Surakarta, tetapi beberapa dekade ini norma itu sudah tidak terlalu ketat di masyarakat. Jenis bentuk warangka Yogyakarta lainnya adalah gayaman. Dulu ada lebih kurang delapan jenis warangka gayaman, tetapi kini hanya dua jenis wanda warangka yang populer, yakni gayaman ngabehan dan gayaman banaran. Warangka gayaman dikenakan pada saat seseorang tidak sedang mengikuti suatu upacara. Jenis bentuk warangka yang ketiga adalah sandang walikat, yang boleh dibilang sama bentuknya dengan sandang walikat gaya Surakarta. //Pamor Keris
SALAH satu aspek penting dalam eksoteri keris selain dapur, tangguh, perabot, adalah pamor keris. Mengenai sebilah keris pada umumnya orang akan bertanya, apa dapurnya, apa pamornya, tangguh mana, dan bagaimana perabotnya. Sebagian orang bahkan menganggap pamor paling penting dari semua aspek keris yang ada. Kata pamor mengandung dua pengertian. Yang pertama, menunjuk gambaran tertentu berupa garis, lengkungan, lingkaran, noda, titik, atau belang-belang yang tampak pada permukaan bilah keris, tombak, dan tosan aji lainnya. Sedangkan yang kedua, dimaksudkan sebagai jenis bahan pembuat pamor itu. Motif atau pola gambaran pamor terbentuk pada permukaan bilah keris karena adanya perbedaan warna dan berbedaan nuansa dari bahab-bahan logam yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan keris, tombak, dan tosan aji lainnya. Dengan teknik tempa tertentu, logam bahan baku keris akan menyatu dalam bentuk lapisan-lapisan tipis, tetapi bukan bersenyawa atau lebur satu dengan lainnya. Karena adanya penyayatan pada permukaan bilah keris itu, gambaran pamor pun akan terbentuk. Gambaran pamor ini diperjelas dan diperindah dengan cara mewarangi keris, tombak, atau tosan aji itu. Setelah terkena larutan warangan, bagian keris yang terbuat dari baja akan menampilkan warna hitam keabu-abuan, yang dari besi menjadi berwarna hitam legam, sedangkan yang dari bahan pamor akan menampilkan warna putih atau abu-abu keperakan. Teknik tempa dalam pembuatan senjata berpamor ini merupakan ketrerampilan khas Indonesia, terutama Pulau Jawa. Bahkan seni pamor itu mungkin bisa dibilang penemuan orang Indonesia. Tidak ada bangsa lain selain Indonesia yang dalam catatan sejarah kebudayaannya mengenal seni tempa senjata berpamor, sebelum abad ke-10. //Asal Mula Pamor Tidak ada data tertulis yang pasti mengenai kapan orang Indonesia (Jawa) menemukan teknik tempa senjata berpamor. Namun jika dilihat bahwa sebagian bilah keris Jalak Buda sudah menampilkan gambaran pamor, bisa diperkirakan pamor dikenal bangsa Indonesia setidaknya pada abad ke-7. Pamor yang mereka kenal itu terjadi karena ketidaksengajaan, dengan mencampur beberapa macam bahan besi dari daerah galian yang berbeda. Perbedaan komposisi unsur logam pada senyawa besi yang mereka pakai sebagai bahan baku pembuatan keris itulah yang menimbulkan nuansa warna yang berbeda pada permukaan bilahnya, sehingga menampilkan gambaran pamor. Keris dan tombak tangguh Jenggala sudah menampilkan rekayasa pamor yang amat indah dan mengagumkan. Jelas pamor itu bukan berasal dari ketidaksengajaan, melainkan karena teknik tempa dan rekayasa si empu. Inilah yang menimbulkan tanda tanya, apakah Jenggala dalam perkerisan sama dengan Jenggala dalam ilmu sejarah? Mengapa budaya masyarakat di kerajaan yang berdiri pada abad ke-11 itu sudah terampil membuat rekayasa seni pamor? //Bahan Pamor Selain menunjuk pada pengertian tentang pola gambarannya, pamor juga dimaksudkan menunjuk pengertian mengenai bahan pembuat pamor itu. Ada empat macam bahan pamor yang acapkali digunakan dalam pembuatan keris, dan tosan aji lainnya. Dari yang empat itu, tiga di antaranya adalah bahan alami, sedangkan bahan pamor yang keempat adalah unsur logam nikel yang telah dimurnikan oleh pabrik. Bahan pamor yang tertua adalah bahan keris dari dua atau beberaoa senyawa besi yang berbeda. Senyawa besi yang berbeda komposisi unsur-unsurnya itu, tentunya didapat dari daerah yang berbeda pula. Dari bahan pamor ini, pamor yang terjadi dinamakan pamor sanak. Bahan pamor lainnya adalah batu bintang atau batu meteor. Penggunaan bahan meteorit untuk bahan pamor bukan hanya dilakukan oleh para empu di Pulau Jawa, juga di daerah lain di Indonesia. Badik batu dan mandau batu, misalnya, dibuat oleh orang Sulawesi dan Kalimantan. Di Sulawesi selain batu bintang atau batu meteor, ada bahan pamor lain yang banyak terdapat di daerah Luwu. Bahan pamor dari Luwu ini kemudian menjadi komoditi dagang antarpulau, bahkan juga dikenal dan diperdagangkan di Singapura, Semenanjung Malaya, dan Thailand. Mereka mengenalnya sebagai pamor Luwu atau bassi pamoro. Jenis bahan pamor yang terakhir adalah nikel. Dulu, beberapa puluh tahun yang lalu, nikel lebih sering dijumpai sudah bercampur dengan unsur logam lainnya, biasanya dengan besi. Tetapi kini, tahun 2000, mudah didapat nikel murni yang dijual kiloan. Dari empat macam bahan pamor itu, batu meteorlah yang terbaik, karena bahan itu mengandung titanium yang banyak memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahan pamor lainnya. Bahan baku pamor meteorit yang terkenal adalah yang berasal dari daerah Prambanan, Jawa Tengah, yang kemudian dinamakan Kanjeng Kyai Pamor dan disimpan di halaman Keraton Kasunanan Surakarta. //Jenis-jenis Pamor Keris Ditinjau dari teknik pembuatannya, dikenal adanya dua macam pamor, yakni pamor mlumah dan pamor miring. Dibandingkan dengan pamor miring, pamor mlumah relatif lebih mudah pembuatannya, dan resiko gagalnya lebih kecil. Itulah sebabnya rata-rata nilai mas kawin (harga) keris berpamor mlumah lebih rendah dibandingkan keris yang berpamor miring. Ditinjau dari bagaimana terjadinya pamor itu, macam-macam motif pamor dibagi dalam dua golongan besar, yakni pamor tiban atau pamor jwalana, dan pamor rekan atau pamor anukarta. Yang digolongkan pamor tiban adalah jenis motif atau pola gambaran pamor yang bentuk gambarannya tidak direncanakan dahulu oleh si empu. Gambaran pola pamor yang terjadi bukan karena diatur atau direkayasa oleh Sang Empu, dianggap sebagai anugerah Tuhan. Pola pamor golongan ini di antaranya, Wos Wutah, Ngulit Semangka, Sumsum Buron, Mrutusewu, dan Tunggak Semi. Sedangkan yang digolongkan pamor rekan, adalah pamor yang pola gambarannya dirancang atau direkayasa lebih dahulu oleh Sang Empu. Termasuk jenis ini di antaranya, pamor Adeg, Lar Gangsir, Ron Genduru, Tambal, Blarak Ngirid, Ri Wader, dan Naga Rangsang. //Istilah-istilah Mengenai Pamor Dalam buku-buku lama mengenai keris sering dijumpai berbagai istilah untuk menggambarkan keadaan dan penampilan pamor. Bahasa Jawanya: Wujud semuning pamor. Istilah-istilah itu pada umumnya kurang begitu dikenal orang yang hidup pada masa kini. Di antaranya adalah: 1. Pamor yang mrambut, merupakan istilah penilaian pamor melalui kesan rabaan (grayangan - Jw.) - yakni pamor yang jika diraba dengan ujung jari rasanya seperti meraba rambut, Munculnya pamor semacam itu pada permukaan bilah keris bagaikan susunan helaian rambut, atau seperti serat-serat yang halus dan lembut. 2. Pamor yang ngawat, juga berkaitan dengan kesan rabaan seperti di atas, tetapi rasa rabaannya tidak sehalus pramor yang mrambut, - melainkan seolah-olah seperi rabaan jajaran kawat yang lembut. 3. Pamor yang nggajih merupakan istilah penilaian pamor melalui kesan penglihatan, yakni pamor yang tampak seperti lemak beku menempel di permukaan bilah keris. Keris atau tosan aji yang pamornya nggajih biasanya adalah keris yang bermutu rendah atau yang sering disebut keris rucahan. Keris semacam itu jika dijentik (dithinthing - Jw.) biasanya tidak berdenting. 4. Pamor mbugisan adalah istilah penilaian pamor melalui kesan penglihatan dan rabaan. Permukaan bilah keris yang pamornya tergolong mbugisan rabaannya halus, sedangkan gradasi berbedaan warna antara besinya yang hitam dan pamornya yang putih keperakan tidak nyata terlihat, tidak kontras. 5. Pamor yang nyanak adalah istilah untuk pamor Sanak atau pamor peson, merupakan istilah penilaian pamor menurut kesan penglihatan dan rabaan. Alur-alur pola gambaran pamor ini tidak jelas, tak kontras, tetapi rabaannya sangat terasa, agak kasar. Keris berpamor sanak biasanya dibuat dari bahan pamor yang berupa mineral besi yang didapat dari daerah lain. Jika dijentik, keris dengan pamor sanak tidak berdenting nyaring. 6. Pamor yang kelem, yang yang penampillannya cukup jelas, cukup kontras, tetapi sedemikian rupa sehingga seolah yang terlihat ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan pamor. Seolah sebagian terbesar dari pamor itu 'tengelam' di dalam badan bilah. Pamor yang kelem itu jika diraba akan terasa lumer atau halus dan lembut. 7. Pamor yang kemambang adalah kebalikan dari pamor yang kelem. Pamor ini memberi kesan seolah bagian pamor yang tertanam di badan bilah hanya sedikit saja. Jika diraba, pamor kemambang juga memberikan kesan lumer dan halus. 8. Pamor yang ngintip adalah istilah penamaan pamor yang sangat kasar perabaannya, malahan kadang-kadang di beberapa bagian terasa tajam. Pamor yang ngintip ini bisa terjadi karena dua sebab. Pertama si empu boros atau dermawan (loma- Jw.) terhadap bahan pamor yang digunakannya, sehingga jumlah bahan pamor yang digunakan berlebihan. Bisa juga terjadi karena ketidaksengajaan, yakni untuk memberikan kesan wingit pada keris itu. Sebab yang kedua adalah si empu menggunakan bahan pamor bermutu tinggi, tetapi besi yang digunakan mutunya kurang baik, sehingga besi itu cepat aus. Sewaktu besinya sudah aus, sedangkan pamor tidak, maka pamor itu akan 'muncul' di permukaan bilah secara berlebihan. 9. Pamor yang mubyar yakni pamor yang tampak cerah, cemerlang, dan kontras dengan warna besinya. Walaupun warnanya kontras, namun jika diraba akan terasa lumer, halus. Selain istilah-istilah yang di atas, untuk menilai pamor orang juga mengamati kondisi tertanamnya pamor pada badan bilah keris atau tosan aji lainnya. Menurut istilah Jawa, kondisi itu disebut tancebing atau tumancebing pamor. Tancebing atau kondisi tertancapnya pamor pada badan bilah ada dua macam, yakni pandes (pandhes), yang tertanamnya pamor seolah dalam dan kokoh; dan kumambang, yaitu yang seolah-olah mengambang atau mengapung di permukaan bilah. //Tuah dan PerlambangBanyak penggemar keris yang mengkaitkan nama dan motif pamor dengan tuah keris atau tombaknya. Untuk mengetahui sebuah keris atau tombak itu baik atau tidak tuahnya, orang lebih dahulu akan mengamati jenis motif pamornya. Begitu pula jika orang ingin tahu apa tuah atau manfaat keris itu, yang pertama kali dilihat adalah pamornya. Itulah sebabnya, mengapa di kalangan penggemar keris timbul istilah ‘membaca pamor’. Mereka menganggap bahwa tuah keris dapat dibaca dari pamornya. Anggapan itu tidak bisa disalahkan. Soalnya, seandainya pamor itu termasuk jenis pamor tiban, gambaran yang muncul dianggap sebagai pratanda dari Tuhan mengenai isi dan tuah keris itu. Jadi, motif atau pola yang tergambar pada pamor itu dianggap sebagai petunjuk untuk memperkirakan baik buruknya keris itu, sekaligus juga memperkirakan tuah apa yang terkandung di dalamnya. Kalau motif pamor itu tergolong pamor rekan, maka pamor itu akan direka oleh Sang Empu sedemikian rupa sehingga bentuk gambarannya sesuai dengan niat empu, yang dirupakan dalam doa adan mantera yang diucapkannya. Misalnya, jika Sang Empu menginginkan keris buatannya mempermudah si pemilik untuk mencari rezeki, ia akan membuat pamor Udan Mas, Pancuran Mas, Tumpuk, atau Mrutu Sewu. Tetapi jika si empu ingin agar keris buatannya bisa menambah kewibawaan pemiliknya, empu itu akan membuat keris dengan pamor Naga Rangsang, Ri Wader, Raja Abala Raja, dan yang sejenis dengan itu. Gambaran motif pamor adalah perlambang harapan. Harapan Sang Empu, sekaligus juga harapan si pemilik keris. Kira-kira sama halnya dengan gambaran rajah penolak bala. Atau mungkin serupa pula dengan gambaran Patkwa yang oleh masyarakat keturunan Cina dipercayai memiliki tuah sebagai penolak bala. Mungkin mirip juga dengan kepercayaan sebagian orang Eropa yang menganggap bentuk ornamen ladam kuda (sepatu kuda) sebagai bentuk yang dianggap bisa mengusir setan dan roh jahat. Dalam budaya Jawa - mungkin juga dibilang budaya Indonesia, bentuk-bentuk tertentu membawa perlambang maksud dan harapan tertentu pula. Bentuk bulatan, lingkaran, garis lengkung, atau gambaran yang memberikan kesan lumer, kental, tidak kaku, melambangkan kadonyan atau kemakmuran duniawi, kekayaan, rejeki, keberuntungan, pangkat, dan yang semacam dengan itu. Bentuk gambaran garis yang menyudut, segi, patahan, seperti segi tiga, segi empat, dan yang serupa dengan itu, dianggap sebagai lambang harapan akan ketahanan atau daya tangkal terhadap godaan, gangguan, serangan, baik secara fisik maupun nonfisik. Jika gambaran itu dirupakan dalam bentuk pamor, itu melambangkan harapan akan kesaktian dan kadigdayan. Bentuk garis lurus yang membujur atau melintang, atau diagonal, dipercaya sebagai lambang harapan akan kemampuan untuk mengatasi atau menangkal segala sesuatu yang tidak diharapkan. Pamor yang serupa itu dianggap dapat diharapkan kegunaannya untuk menolak bala, menangkal guna-guna dan gangguan makhluk halus, menghindarkan bahaya angin ribut dan badai, terhindar dari gangguan binatang buas dan binatang berbisa. Misalnya, pamor Adeg. Karena itulah, seorang empu sebenarnya juga bisa dibilang seniman yang memahami bahasa perlambang, dan menggunakan gambaran pamor sebagai media komunikasi. Dimasa lalu, setiap pria Jawa terutama bangsawan dan priyayi, pada saat menjalankan tugasnya sehari-hari, selalu mengenakan busana tradisional lengkap dengan sebilah keris dipinggangnya. Setiap priyayi paling tidak memiliki dua buah, satu untuk dipakai harian, sedangkan yang lain untuk upacara resmi dan upacara di karaton. Tentu saja, keris yang kedua mempunyai kualitas dan penampilan yang lebih bagus. Dizaman kuno, keris dipergunakan sebagai senjata untuk berperang ataupun untuk bertarung satu lawan satu. Pada saat ini, fungsi keris adalah untuk pelengkap busana tradisional. Namun demikian, keris tetap dihargai, diperlakukan dengan baik. Orang tradisional menghargai keris sebagai pusaka yang berharga dan barang seni yang bernilai tinggi. Keris dinilai berkualitas tinggi, kalau mempunyai penampilan fisik yang anggun dan punya daya spiritual yang bagus. //TUAHMenurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tuah antara lain berarti sakti, keramat; berkat (pengaruh) yang mendatangkan keuntungan (kebahagiaan, keselamatan, dsb). Secara umum, dalam dunia perkerisan tuah diartikan sebagai kesaktian, daya luwih, kekuatan magis, dan manfaat gaib yang terkandung dalam sebilah keris atau tosan aji lainnya. Bagi mereka yang percaya akan adanya tuah pada sebilah keris, daya gaib yang terpancar atau 'sesuatu' yang dirasakan itulah yang disebut angsar. Pada dasarnya tuah keris itu selalu baik dan untuk kebaikan. Tetapi tuah keris belum tentu akan cocok manfaatnya bagi seseorang. Ilmu untuk mengenal dan mengetahui jenis-jenis angsar disebut ilmu tanjeng. Untuk mengetahui cocok atau tidaknya sebilah keris bagi seseorang, digunakan ilmu tayuh. Kepercayaan akan adanya tuah, baik pada keris maupun pada benda lainnya, bukan hanya ada pada masyarakat Jawa, Indonesia, atau Asia saja juga pada banyak bangsa dari benua lainnya. Bagi sebagian orang, terutama pecinta keris yang masih tergolong pemula, tuah keris dianggap dapat dibuktikan secara fisik, misalnya, lilin menyala dapat padam dengan sendirinya bila diacungi sebuah keris tertentu. Atau, bila keris tertentu direndam dalam air, di bawah sinar terang matahari, tampak seperti ular hidup. Atau, keris tertentu yang bilamana dipegang, rambut orang itu tidak dapat dipotong dengan pisau silet. Dan, atraksi-atraksi mirip sulap lainnya. Namun sebagian besar pecinta keris menganggap bahwa tuah keris sebenarnya tidak bisa dilihat, namun dapat dirasakan. Misalnya, setelah mendapat sebilah keris, rumah tangga yang sebelumnya selalu ribut, jadi tenteram dan rukun. Atau, kariernya lebih lancar, atau usahanya lebih maju, dlsb. Yang jelas, pengertian tentang tuah keris ini terkadang bersifat subyektif, lain orang bias lain pendapatnya. Semua itu tergantung pada lingkungan dan pengalaman hidup masing-masing. Menayuh Keris //TAYUH Adalah sejenis ilmu tradisional yang digunakan untuk menentukan apakah sebilah keris akan cocok dipakai atau dimiliki oleh seseorang, atau tidak. Ilmu ini terutama bermanfaat untuk meningkatkan kepekaan seseorang agar dia dapat menangkap kesan karakter sebilah keris dan menyesuaikan dengan kesan karakter dari calon pemiliknya. Contohnya, keris yang menampilkan karakter keras, galak, tidak baik dipakai oleh seorang yang sifatnya keras dan kasar. Untuk orang semacam itu sebaiknya dipilihkan keris yang karakternya lembut, dingin. //Cara Me-nayuh Ada berbagai cara untuk me-nayuh sebilah keris atau tombak. Di Pulau Jawa dan dibeberapa daerah lainnya, yang terbanyak adalah dengan cara meletakkan keris atau tombak itu di bawah bantal, atau langsung dibawah tengkuk, sebelum tidur. Agar aman, keris atau tombak itu lebih dahulu diikat dengan sehelai kain dengan sarungnya. Dengan cara ini si Pemilik atau orang yang me-nayuh itu berharap dapat bertemu dengan 'isi' keris dalam mimpinya. Namun cara ini tidak senantiasa berhasil. Kadang-kadang mimpi yang dinantikan tidak muncul, atau seandainya mimpi, sesudah bangun lupa akan isi mimpinya. Jika malam pertama tidak berhasil biasanya akan diulangi pada malam berikutnya, dan seterusnya sampai mimpi yang diharapkan itu datang. Keris atau tombak itu dianggap cocok atau jodoh, bilamana pada saat ditayuh orang bermimpi bertemu dengan seorang bayi, anak, gadis, atau wanita, pemuda atau orang tua, yang menyatakan ingin ikut, ingin diangkat anak, atau ingin diperistri. Bisa jadi, yang ditemui dalam mimpi termasuk juga makhluk yang menakutkan. Mimpi yang serupa itu ditafsirkan sebagai isyarat dari 'isi' keris yang cocok atau tidak cocok untuk dimiliki. Bagi orang awan, cara me-nayuh lewat mimpi inilah yang sering dilakukan, juga sampai sekarang. Selain cara itu masih banyak lagi cara lainnya. Untuk dapat me-nayuh keris atau tosan aji lainnya, tidak harus lebih dulu menjadi seorang ahli. Orang awan pun bisa, asalkan tahu caranya. Dalam masyarakat perkerisan juga dikenal apa yang disebut keris tayuhan, yaitu keris yang dalam pembuatannya lebih mementingkan soal tuah daripada keindahan garap, pemilihan bahan besi, dan pembuatan pamornya. Keris semacam itu biasanya mempunyai kesan wingit, angker, memancarkan perbawa, dan ada kalanya menakutkan. Walaupun segi keindahan tidak dinomorsatukan, namun keris itu tetap indah karena pembuatnya adalah seorang empu. Padahal seorang empu, tentulah orang yang mempunyai kepekaan keindahan yang tinggi. Patut diketahui, keris-keris pusaka milik keraton, baik di Yogyakarta maupun di Surakarta, pada umumnya adalah jenis keris tayuhan. Dapur keris tayuhan, biasanya juga sederhana, biasanya juga sederhana, misalnya, Tilam Upih, Jalak Dinding, dan Mahesa Lajer. Bukan jenis dapur keris yang mewah semacam Nagasasra, Naga Salira, Naga Kikik, atau Singa Barong. Selain itu, keris tayuhan umumnya berpamor tiban. Bukan pamor rekan. Di kalangan peminat dan pecinta keris, keris tayuhan bukan keris yang mudah diperlihatkan pada orang lain, apalagi dengan tujuan untuk dipamerkan. Keris tayuhan biasanya disimpan dalam kamar pribadi dan hanya dibawa keluar kamar jika akan dibersihkan atau diwarangi. //Menanjeg Keris Ilmu tanjeg dalam dunia perkerisan di Pulau Jawa -- terutama di Yogyakarta dan Surakarta, adalah ilmu untuk membuat penilaian mengenai karakteristik atau sifat tuah, serta manfaat gaib sebuah keris atau tosan aji lainnya. Dalam budaya perkerisan di Pulau Jawa dikenal adanya istilah angsar yang merupakan kekuatan gaib sebilah keris. Apa manfaat dan apa pula mudaratnya angsar itu, dapat di ketahui dengan manggunakan ilmu tanjeg. Dengan ilmu tradisional itu, bagi yang percaya, seseorang dapat mengetahui kegunaan gaib dari sebuah keris,tombak, atau tosan aji lainnya. Dengan ilmu tanjeg, misalnya, sebuah keris dikatakan mempunyai manfaat dapat melindungi pemiliknya dari gangguan mahluk halus, dapat menahan serangan guna-guna,menambah wibawa dan keberanian pemiliknya. Orang yang memahami ilmu tanjeg pada umumnya disabut ahli tanjeg. //Ilmu tanjeg ini ada dua macam. Yang pertama dengan melakukan pengamatan lahiriah sebuah keris, baik dari besinya, pamornya, cara pembuatannya, bentuknya, dan rabaannya. Cara ini juga di sebut nanjeg cara eksoteri. Misalnya, kalau keris itu ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng, bisa diduga manfaat atau tuah keris itu adalah baik untuk mencari rezeki dan cocok untuk para pedagang. Kalau keris itu pamornya Tunggaksemi, maka keris itu baik untuk mengembangkan modal. Jika penampilan keris itu berkesan penampilan wingit, maka tidak baik untuk dipakai para pedagang. Cara kedua adalah dengan mengandalkan kemampuan batiniah secara tradisional. Cara ini banyak macamnya,dan hanya dapat dipelajari dengan metode tradisional, antara lain dengan berpuasa, menghafalkan dan selalu mengulang-ngulang mantera dan doa tertentu, dengan bimbingan orang yang menguasai ilmu itu. Cara itu disebut cara esoteri. Banyak para ahli tanjeg yang menggunakan kedua cara itu untuk menilai angsar sebilah keris,atau tosan aji lainnya. Seorang ahli tanjeg, pada umumnya diminta pendapatnya, kalau seseorang ingin membeli atau akan mendapatkan keris. Sebab keris dulu yang dibuat sang empu untuk keperluan keprajuritan, tidak akan sesuai digunakan oleh seorang pedagang. Keris yang dulu dibuat khusus untuk orang yang berusia tua dan telah pensiun, tentu tidak baik digunakan oleh orang muda yang masih aktif bekerja. Ilmu tanjeg tidak hanya ada di Pulau Jawa dan di Indonesia saja. Walaupun cara cara dan metodenya tidak sama, di Brunei Darussalam pun ilmu yang semacam dengan ilmu tanjeg itu juga ada. Dan, hasil tanjeg pun tidak jauh berbeda. Misalnya, sebuah keris yang di tanjeg oleh ahli di Pulau Jawa di katakan bermanfaat baik untuk berdagang baik untuk berdagang, mengembankan usaha, dan memupuk kekayaan; dengan ilmu tanjeg ala Brunei, keris yang sama, dikatakan keris berisi besi bendahara. Eksoteri adalah telaah yang membahas hal-hal yang dapat terlihat, dapat diraba, dan bisa diukur. Dalam dunia perkerisan, eksoteri keris meliputi pembicaraan masalah dapur keris, pamor keris, warangka (sarung) keris, ukiran (hulu) keris, termasuk teknik pembuatan dan sejarah asal usulnya. Bentuk bilah keris terdiri atas ratusan dapur (lihat Istilah Keris). Dari yang ratusan itu bisa dibagi menjadi dua golongan besar, yakni bilah keris yang lurus, dan yang memakai luk.
ESOTERI KERIS Adalah semacam ilmu atau pemusatan perhatian terhadap apa yang tidak tampak dari luar, pada sebilah keris. Esoteri keris antara lain membicarakan soal tuah, tanjeng, tayuh, khasiat, daya magis, manfaat, pengaruh, isi, penunggu, dan yang semacam dengan itu. Terlepas soal percaya atau tidak, benar atau salah, maka esoterikeris merupakan salah satu dari banyak cabang budaya perkerisan. Ia selalu dibicarakan orang, baik yang percaya maupun tidak, bukan hanya dikalangan masyarakat pecinta keris di Indonesia, tetapi juga di negara lain, termasuk negara-negara barat. Biasanya, selain dibicarakan dari sudut budaya, esoteri keris juga sering dibahas dari sudut agama. Lawan kata dari esoteri keris adalah eksoteri keris atau exoteri keris. Berbeda dengan esoteri keris, maka eksoteri keris membicarakan soal-soal keris yang tampak dari luar. Antara lain yang dibicarakan soal dapur keris, pamor, jenis besi dan yang semacam dengan itu. Pembicaraan soal esoteri keris hampir selalu berkaitan dengan soal tuah atau kesaktian keris. Karena soal tuah amat erat kaitannya dengan pengalaman pribadi seseorang, sikap spiritual seseorang, maka soal esoteri itu tidak dapat diperdebatkan.
Pesona Mistis Dapur Keris Sabuk Inten Pamor Beras Wutah UNTUK SEBUAH KEMULIAAN DAN SPIRIT PANTANG MENYERAH Sekiranya tak berlebihan bila keris dikatakan sebagai fenomena. Pasalnya, jenis senjata yang sekaligus juga dianggap pusaka ini sarat dengan makna. Belum lagi model, gaya dan aura serta fungsinya yang sungguh sangat beraneka. Ditambah faktor mistis, yang membuat keris menjadi legendaris dan karenanya historis . Berkait sejarah atau nilai historisnya, jagat perkerisan di tanah Jawa mencatat banyak kisah keris pusaka ampuh yang legendaris. Mulai dari Keris Mpu Gandring di zaman Singosari hingga keris zaman peralihan Majapahit Hindhu ke Demak Islam. Misalnya Kiai Condong Campur, Nogososro dan Sabuk Inten serta Kiai Sengkelat. Belum lagi keris keris milik para Kanjeng Sunan penyebar Islam seperti keris Kiai Kala Munyeng, Kiai Carubuk dan banyak lagi. Di zaman itu, keris tak hanya dipandang sebagai pusaka saja. Tapi juga sasmita zaman. Pada tataran inilah sebenarnya, sejak itu keris sudah bertambah fungsinya menjadi semacam prasasti atau candra sengakala. Pada akhirnya keris diakui sebagai benda multi fungsi dan multi makna. Sebagai prasasti atau candra sengakala, keris sengaja dibuat dengan ricikan sedemikian rupa, sehingga merujuk pada sebuah angka tahun. Hal demikian setidaknya pernah dilakukan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja besar Mataram Hadiningrat di Jogjakarta. Pewaris dinasti Kerajaan Islam terbesar dan paling kawentar itu membuat keris dengan ganja kinatah emas berelief Gajah-Singa. Keris itu diperuntukkan sebagai hadiah bagi para senopati perangnya, yang telah berjasa menaklukkan pemberontakan Raja Pragola, di Pati, Jawa Tengah. Ukiran ganja kinatah Gajah Singa itu lengkapnya berbunyi Gajah Singa Keris Siji. Gajah berarti 8, Singa berarti 5, Keris berarti 5, dan Siji berarti 1. Deretan angka itu kemudian dibaca dari belakang menjadi 1558. Angka ini adalah angka tahun Jawa. Tahun kemenangan Sultan Agung Hanyokrokusumo atas Kadipaten Pati yang hendak membangkang kepada Narendra Agung Mataram Hadiningrat, Sultan Agung. Sebagai pemberian, sebenarnya keris itu juga berfungsi sebagai tanda pernghargaan. Dengan berbagai bentuk atau dapur dan pamornya, dengan sendirinya tercipta adanya ciri khas tersendiri. Ciri khas ini kemudian merujuk pada sebuah identitas. Keris pun lalu menjadi simbol identitas dinasti atau derajat kepangkatan seseorang.
Bangsa Indonesia bangga bahwa karya pinisepuhnya yang berupa Keris telah diakui oleh UNESCO pada tahun 2005 sebagai Warisan Budaya Indonesia
"SALAM BUDAYA "

Selasa, 27 Agustus 2013

KERIS SEMPONO JUNJUNG DRAJAT

PAMOR UJUNG GUNUNG JUNJUNG DERAJAT


Keris dapur sempono
Kamor ujung gunung junjung derajat
Tangguh mataran sultan agung
Asal usul keris dari  Kanjeng Raden Tumenggung Iman soetojo  Banyumas Jateng ,
kondisi belum di beri warangan












  Setelah di beri warangan













 TENTANG KERIS SEMPONO
Keris Sempana atau Supana berasal dari kata Su dan Pana. Su artinya orang dan Pana artinya Pandai. Dengan demikian keris Sempana ini memiliki kandungan maksud agar kita menjadi orang yang pandai.
Akan tetapi dalam ensklopedi keris disebutkan bahwa keris sempana luk 9 ini dikenal dengan istilah sempana klentang juga. Dimana secara historis dulu keris semacam ini banyak dipegang oleh para pedagang makelar.
MENGENAI PAMORUNJUNG GUNUNG
Memudahkan meraih puncak karier / sukses
MENGENAI PAMOR JUNJUNG DERAJAT
Junjung drajat salah satu motif pamor yang dulu hanya terkenal di Madura dan Jawa Timur. Tetapi sejak sekitar tahun 1985-an pamor ini juga banyak dicari oleh para penggemar keris di Jawa Tengah dan Jakarta.
Banyak pecinta keris di Madura dan sebagian Jawa Timur menganggap pamor Junjung Drajat ini memiliki Tuah yang baik. Keris berpamor seperti ini paling tepat bila dimiliki oleh pegawai negeri, karyawan,dan pengusaha.. konon, dengan bantuan tuah pamor itu dan dengan izin Tuhan, pemakai keris ini akan mudah naik pangkat.dan menggapai sukses Lagi pula, pamor ini bukan termasuk pamor yang pemilih.
Kembali pada Allah karena Dia yg punya kuasa

Ritual Menarik Benda Dari Alam Gaib

Ritual Menarik Benda Dari Alam Gaib


Berburu barang antik memang mengasikkan apabila sudah menjadi hobbi, banyak sekali benda keramat atay gaib peninggalan nenek moyang kita yang tersembunyi secara gaib atau di luar nalar manusia. Apalagi hobbi ini sudah menjadi kebutuhan atau pekerjaan tentunya kita harus lebih profesional lagi dengan memiliki banyak refrensi agar mendapatkan rahasia ilmunya agar tidak begitu sulit seperti orang lain yang hanya sekedar hobbi.

Ilmu berikut ini mungkin jawaban dari pertanyaan para pengunjung yg selama ini seputar mengambil harta karun atau mengambil harta terpendam dengan kekuatan supranatural. Namun disayangkan, apabila keilmuan ini tidak melalui proses pengijazahan maka tidaklah akan sempurna.

Wiridannya sebagai berikut;

1. LAA ILAAHA ILLAA ANTA YA HAYYU YA QOYYUUMU 1000X

2. ALLAHUMMA NUURUSSAMAWAATI WAL ARDHI


BUN YAA NULLAH
SHIFAA TULLAH
AF 'AALULLAAH
WA NUURBUAT
YAa RASUULALLAAH
ALLAAHUMMA FII SHUUROTI SULAIMAANA MINAL MASYRIQI WALMAGHRIBI
LIDZAA TIHI
WA SHIFAATIHI
WA QUWWAA TIHI
WAJIBRIIL
WAMIIKAA IL
WA ISYRAAFIIL
JALLAA JALAALUHU IBLIS SYAITHOON
BIROHMATIKA YAA ARHAMARROOHIMIIN
100X


Wiridan tersebut merupakan upaya spiritual yang cukup ekstrim.

Untuk mendapatkan hasil seperti itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam mengerjakan rituali diperluakn ketekunan dan kedisiplinan tertentu sehingga nilai ritual yang dilakukan menjadi sempurna. Tidak heran banyak pengalaman orang dalam menjalani laku batiniah dengan mewiridkan sesuatu atau mentirakati suatu ilmu ketika mengerjakannya banyak kegagalan, ironisnya lagi semua wiridan atau tirakatan setelah selesai dikerjakan tetapi sama sekali tidak mendapatkan tuah atau hasil.

Apabila mengalami hal yang mengecewakan seperti itu janganlah berputus asa dan berlaku pesimis, sebab bisa saja ketika kita mengerjakannya merasa dalam wiridan atau tirakatan itu sudah melakukan ritual dan lainnya sudah sempurna. Padahal tanpa kita sadari atau tanpa kita ketahui ternyata ada disana sini bacaan atau polah tingkah maupun hati kita yang membuat keilmuan yang di kerjakan nilai mutunya tidak sempurna.

Bagi orang yang berbakat, kegagalan dalam melakukan ritualisasi keilmuan apabila menemui kegagalan merupakan hal biasa, semua itu bukan membuat dirinya prustasi atau kecewa, malah bertambah semangat untuk berjuang lebih keras lagi agar menemukan keberhasilan.

Sebelum mempergunakan ilmu nyedot benda dari alam ghaib diharuskan melakukan ritual khusus sebagai berikut:

1. Puasa 7 hari seperti bulan ramadhan dengan buka dan sahur hanya diperbolehkan nasi putih dan air putih (tidak berasa)

2. Satu hari sebelum puasa lakukan mandi keramas seperti mandi hadats besar dengan niat:

" Allaahumma sakhirlii haajati ta'lamu sirrii wa 'alaa niati faqabbal maghfiroti faa qadhaa haajati wa suu ali...(sebutkan niatnya)...faghfirlii dzunubii (ya allaah 3x)".

3. Selama puasa setiap malamnya setelah melakukan sholat hajat 2 rekaat lalu mewiridkan ilmu nyedot benda dari alam ghaib.

4. Setelah tamat puasa maka ditambah 1 malam tidak tidur tetapi bebas makan minum

5. Tamat puasa kenduri dengan memakan ayam berbulu putih dengan masakan ingkung (masak bulat) dan nasi kebulik (nasi yang dimasak memakai santan kelapa dan dibubuhi bumbu yang lezat)

Setelah Tamat puasa maka ilmu dapat dipergunakan kapan saja di inginkan.

Cara Untuk Penyedotan;

-Ditengah malam sekitar pukul 24.00 waktu setempat lakukan mandi keramas seperti mandi hadats besar dengan niat mandi: " Allaahumma sakhirlii haajati ta'lamu sirrii wa 'alaa niati faqabbal maghfiroti faa qadhaa haajati wa suu ali...(sebutkan niatnya)...faghfirlii dzunubii (ya allaah 3x)".

- Sebelum niat beri salam dulu kepada nabi Allah hidir AS.; "Assalmu'alaikum ya nabi Allah hidir Alaihi Salam alfaatihah...(baca suratul faatihah 1x)....(dilanjutkan membaca niat mandi 1x)".

- Setelah mandi maka ambillah wudhu yang sempurna.

- Kemudian Sholat sunat hajat 2 rekaat.

- Dilanjutkan dengan menggeser arah duduk (sila) kekanan sedikit (ke arah Utara sedikit) dengan niat duduk di hizib Ismail.

- Kemudian membaca Wiridan hingga selesai.

- Kalau niatnya keterima benda dari alam gaib akan datang dengan sendiri kehadapan.

Untuk disadari, bahwa manusia hanya mampunya berusaha sedangkan yang mengabulkan adalah Allah SWT semata.

KERIS TILAM UPIH

KERIS TILAM UPIH








KERIS TILAM UPIH
PAMOR : WENGKON ISEN
TANGGUH : ESTIMASI MATARAM SENOPATEN
RANGKA LADRANG ( beli bekas karena saat mendapatkan pusaka hanya bilah saja)
Asal usul pusaka dari hasil tirakatan di makam Pangeran Samodro di Gunung Kemukus Kab Sragen.
FILOSOFI TILAM UPIH
Banyak cerita tentang keris pusaka keluarga (“ampuh”) dengan dapur Tilam upih ini. Banyak yang meyakini bahwa pusaka yang berwujud keris memiliki bentuk-bentuk sederhana, seperi halnya Tilam Upih. Tilam Upih memiliki ricikan terdiri dari gandik, pijetan/blumbangan dan tikel alis. Menurut cerita dahulu kala, salah satu wali dari majelis wali-sanga, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga pernah menyarankan kepada pengikut-pengikut beliau. Bahwa keris pusaka pertama yang harus dimiliki adalah keris dengan dapur Tilam Upih.
Menurut beliau keris dengan dapur ini, bisa menjadi pengikut/teman yang setia disaat suka maupun duka, disaat prihatin dan disaat jaya. Tilam Upih yang dalam terminologi Jawa berarti tikar yang terbuat dari anyaman daun untuk alas tidur, diistilahkan sebagai  kondisi sedang tirakat/prihatin, masih tidur dengan alas yang keras, belum dengan alas yang empuk.  Untuk itu dengan Keris Pusaka Tilam Upih diharapkan memperoleh efek ketenteraman keluarga atau rumah tangga. Oleh karena itu, banyak sekali pusaka keluarga yang diberikan secara turun-temurun dalam dapur Tilam Upih. Keris Pusaka selanjutnya yang perlu untuk dimiliki biasanya Berdapur Tilam Sari. Keris yang melambangkan kejayaan pemiliknya.
PAMOR WENGKON ISEN PENDARINGAN KEBAK
 Tentang Pamor Wengkon
Dilihat dari penampilannya, tampak seolah pamor yang sederhana. Tetapi pamor Wengkon atau Tepen tidak dapat dibuat oleh sembarang empu. Hanya para empu yang cermat dan teliti dalam kerjanya yang sanggup membuat motif pamor Wengkon dengan baik.
Bentuk gambaran motif pamor Wengkon berupa garis yang membentuk bingkai sejak dari bagian gandik. Ke tepi depan, ke pucuk, ke tepi belakang, hingga wadidang keris. Kata wengkon artinya memang bingkai. Sedangkan nama Tepen, berasal dari kata tepian.
Karena membentuk bingkai, pamor ini terkadang disebut juga pamor Lis-lisan. Lis = bingkai.
Tuah atau angsar pamor wengon bagi sebagian pencinta keris dipercaya dapat melindungi pemiliknya dari bahaya, penangkal guna-guna, penangkal fitnahan, mencegah gangguan binatang buas dan berbisa. Pamor wengkon secara umum tidak pemilih, artinya siapa saja cocok memiliknya.
Pamor wengkon banyak yang dikombinasikan dengan pamor lainnya, seperti wos wutah, ron genduru, tambal, dlsb.


Tentang Pamor Pedaringan Kebak :
Pamor ini ditinjau dari gambaran motifnya sangat mirip dengan pamor wos wutah. Ditinjau dari sudut arti namanya pun ada kaitannya. Wos Wutah artinya Beras Tumpah, sedangkan Pedaringan Kebak artinya Peti Beras yang penuh. Kata “pedaringan” artinya peti beras. Dulu, orang Jawa umumnya menyimpan beras dalam sebuah peti besar terbuat dari kayu.
Dari segi bentuk gambaran pamornya, pedaringan kebak lebih ruwet dibandingkan dengan bentuk gambaran pamor wos wutah. Pamor ini boleh dikatakan menempati hampir seluruh permukaan bilah keris, tidak mengelompok menjadi beberapa bagian.
Sedangkan tuahnya bagi yang percaya, lebih kurang sama denga tuah pamor wos wutah. yaitu ketentraman rumah tangga, karier, memudahkan datangnya rezeki, dan juga sebagai penolak bencana.
Pamor ini tidak pemilih, artinya siapa saja cocok memilik keris dengan pamor ini.
ATAS KEHENDAK ALLAH SWT SEMUA BISA TERJADI

KERIS SINOM WORA WARI

KERIS SINOM WORA WARI








KERIS SINOM WORA WARI
PAMOR: UDAN EMAS
TANGGUH :ESTIMASI MADIUN
WARANGKA : KAYU JATI ( beli second karena saat mendapatkan pusaka hanya bilah saja)
Asal usul Pusaka hasil tirakatan di makam Kiageng Getas pandowo, di Daerah Purwodadi Grobogan
 KERIS LURUS

Jenis keris lurus adalah jenis yang sederhana dalam bentuknya pada awalnya. Namun seiring perkembangan jaman bentuk lurusnya tidak lagi sederhana, karena dihiasi dengan bermacam-macam motif pamor, dapur keris dan hiasan, seperti pamor udan mas dan melati rinonce.
Dalam kategori keris lurus termasuk juga pusaka lain yang bentuknya tidak mirip keris, tetapi dimasukkan dalam kategoti keris, seperti keris berdapur banyak angrem, keris dapur semaran atau keris yang berbentuk gunungan.

Jenis keris lurus mengandung sisi spiritual dalam pembuatannya sebagai lambang kelurusan hati, kepercayaan diri dan mental yang kuat, keteguhan hati pada tujuan dan sarana pemujaan kepada Sang Pencipta. Sesuai sifat kerisnya itu, si pemilik keris diharapkan selalu menjaga kelurusan dan keteguhan hati, tekun beribadah, menjaga moral dan budi pekerti dan sikap ksatria.
Keris lurus juga diidentikkan sebagai lambang ksatria, ketulusan hati dan sikap setia pada tanggung jawab, dan menjadi sarana doa untuk menundukkan keilmuan orang-orang jahat, untuk membela kebenaran dan orang-orang yang tertindas. Banyak ksatria jaman dulu yang lebih memilih keris lurus daripada keris ber-luk.
Dalam ritual-ritual pemujaan, selain si pemilik beribadah kepada Yang Maha Kuasa, keris itupun diberi sesaji dan doa sebagai sarana menyatukan kebatinan, menjadi satu kesatuan kebatinan supaya doa-doa sang pemilik keris, bersama kerisnya, dapat sampai kepada Yang Dipuja. Bagi pemiliknya, keris lurus berguna, selain sebagai senjata dan pusaka, juga menjadi sarana untuk membantu dalam kerohanian.




Pada masanya, keris bukan hanya menjadi senjata ataupun pusaka, tetapi juga dianggap sebagai 'berkah' (wahyu) dari dewa kepada sang pemilik keris, sesuai agama manusia pada masa itu. Karena itulah sang pemilik keris akan benar-benar menjaga dan memelihara kerisnya, bahkan juga akan meng-"keramat"-kannya, lebih daripada sekedar senjata atau pun jimat.
Dalam ritual kerohanian, ada juga suatu jenis keris lurus yang dijadikan sarana pembersihan gaib dari mahluk halus yang mengganggu (keris sajen), seperti dalam ritual ruwatan sengkolo, ritual bersih desa, pemberkatan pembukaan lahan baru, dsb, yang biasanya kemudian keris itu akan dilarung.
Pada jaman sekarang ini, dibandingkan jenis keris ber-luk, biasanya jenis keris lurus masih memberikan satu rangkaian tuah yang lengkap. Rangkaian kesatuan tuah yang lengkap ini jarang sekali didapatkan dari keris-keris ber-luk pada jaman sekarang ini. Dalam pemeliharaannya, dibandingkan keris ber-luk, biasanya keris lurus lebih banyak menuntut untuk sering diberi sesaji.
Biasanya ketajaman energi gaib keris lurus dapat dirasakan ketika ujung kerisnya diarahkan kepada seseorang. Secara umum, walaupun bentuknya lebih sederhana, namun keris lurus memiliki kegaiban dan wibawa yang lebih kuat dan lebih wingit  dibandingkan keris ber-luk. Selain itu, karena wibawa kegaibannya yang kuat, banyak keris lurus, terutama yang dulunya dibuat di Jawa Tengah, sebenarnya adalah  Keris Tindih.
PAMOR UDAN EMAS

Pamor Keris adalah gambar yang terdapat pada bilah (wilah) keris. Sebenarnya, Pamor bukan hanya terdapat pada keris tetapi juga pada tosan aji atau benda-benda pusaka bertuah lainnya seperti tombak, pedamg, cundrik dan lain sebagainya. Pamor pada keris maupun pada tosan aji lainnya memiliki makna simbolik dan makna filosofis yang terkandung didalamnya. Dengan memahami pamor Keris, maka akan dapat menangkap pesan moral emasing-masing pamor pada tosan aji tersebut.  Salah satu pamor keris yang sangat populer dan banyak diburu oleh para pecinta benda pusaka adalah Pamor Udan Emas karena diyakini memiliki tuah untuk kerejekian.
Pamor Udan Emas adalah pamor yang sangat populer di masyarakat umum. Pamor ini banyak dianggap memiliki daya atau kekuatan gaib yang mampu membuat pemegang keris dengan pamor ini dimudahkan rejekinya sehingga keris ini banyak diburu dan dimiliki oleh berbagai kalangan masyakarat, khususnya para pelaku bisnis di berbagai sektor usaha.
Keris berpamor udan emas ini pada dasarnya merupakan pamor rekan.  Pamor rekan adalah pamor yang sengaja dibuat oleh sang mpu pembuat keris, sedang pamor yang tidak sengaja dibuat oleh sang empu biasa disebut sebagai pamor tiban. Oleh banyak kalangan, KERIS dengan Pamor Udan Mas dianggap memiliki tuah untuk memudahkan pemiliknya mendapatkan rejeki. Dengan rejeki yang cukup,diharapkan seseorang bisa membina rumah tangga dan keluarga lebih baik dan sejahtera.
Pada dasarnya, ada tiga jenis tuah atau kekuatan gaib dalam keris yaitu tuah untuk kesaktian, tuah untuk kekuasaan dan wibawa, dan tuah kerejekian.  Ketiga tuah tersebut adalah tuah-tuah pokok yang ada pada keris atau tosan aji lainnya.
Pamor Udan EmasKi Kresno, paranormal asal Blitar Jawa Timur yang juga memiliki pemahaman terhadap keris mengatakan bahwa Pamor Udan Emas dalam keris sangat memiliki nilai ajaran yang luhur. “Pamor itu memiliki nilai ajaran yang luhur.  Kalau pamor Udan Emas, ada gambaran lingkaran yang seperti obat nyamuk itu.  Lingkaran itu bisa dimaknai bahwa manusia pada umumnya dan pemegang keris berpaor udan emas tersebut pada khususnya harus memiliki kepekaan dan kepedulian sosial serta harus bisa bermanfaat bagi sesama makhluk Tuhan di muka bumi ini. Lingkaran dari tengah yang kian lama kian melebar berarti harus selalu meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosialnya bagi sesama”, jelas Ki kresno kepada infomistik, Senin, 03/06/2013 di kediamannya.
“selain itu, Pamor Udan Emas juga mengandung ajaran berupa perintah untuk bersedekah. Udan itu bahasa Jawa, bahasa Indonesianya adalah hujan. Sedekah itu bagaikan hujan emas, baik bagi pemberi sedekah maupun penerima sedekah.  Hujan juga memiliki sifat mendinginkan, demikian juga sedekah.  Sedekah akan mampu mendinginkan dan melembutkan hati bagi orang yang memberikan sedekah maupun yang menerima sedekah.  Bagi penerima sedekah, sedekah yang diterimanya bagaikan hujan emas, karunia Tuhan yang sangat berarti dalam kehidupan. Melalui sedekah, hubungan sosial antara pemberi sedekah dan penerima sedekah akan lembut dan harmonis”, tambah Ki Kresno.
“terkait dengan kerejekian, pada prinsipnya adalah pada kemampuan pemegang keris untuk melaksanakan ajaran atau perintah yang ada dalam Pamor Keris tersebut yaitu sedekah. Bahkan yang tidak memegang keris itupun, asalkan mau melaksanakan sedekah, maka rejekinya akan dimudahkan oleh Allah SWT.  Kalau ingin kaya atau memiliki uang banyak, ya perbanyak sedekah dengan uang. Tidak pernah ada orang yang jatuh miskin karena banyak sedekah. Biarpun orang memiliki seratus bilah keris berpamor Udan Emas ini tetapi tidak mau bersedekah atau berbagi kepada sesama, maka untuk manfaat kerejekiannya juga tidak ada alias jauh panggang dari api.”, pungkas Ki Kresno. Wallahu A’lam Bis-Shawab.
SUMBER( http://infomistik.com)

KERIS SINGO BARONG

KERIS SINGO BARONG








KERIS SINGOBARONG DAPUR PANDOWO
LUK 5
PAMOR :SEGORO MUNCAR
TANGGUH : ESTIMASI MATARAM SENOPATEN
Asal Usul Pusaka : Hasil Tirakatan Di Makam Ki Ageng Pembalakan di Daerah Wonogiri
RANGKA  KAYU JATI UKIR BALI ( Beli bekas di pasar Purwodadi Grobogan)
karena waktu mendapatkan pusaka hanya bilah
 filosofi keris singo barong
  keris singo barong  mempunyai makna :Tuah Kekuasaan dan ketegasan,
PAMOR SEGORO MUNCAR 
memudahkan/meluaskan rezeki ,memperluas pergaulan ,keselamatan,
SEMUA ATAS KEHENDAK ALLAH  SWT